Sabtu, 13 Mei 2017

makalah sejarah perkembangan kolonialisme barat di indonesia, makalah kebijakan pemerintah kolonial barat di indonesia, makalah perkembangan pengaruh barat terhadap kehidupan sosial budaya

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.
Di Indonesia juga kolonialisme telah merupakan menjadi sejarah, pasalnya kolonialisme pun pernah terjadi di Indonesia sekitar tahun 1811 sampai tahun 1945. Yaitu diantaranya kolonialisme Inggris(1811-1816) dan juga kolonialisme Jepang (1942-1945).
Kolonialisme di Indonesia berawal dari perdagangan rempah-rempah yang ada di dunia Timur. Perjalanan pelayaran Belanda merupakan awal dari kolonialisme  yang terjadi di Indonesia, yang di awali oleh kekuasaan VOC pada tahun 1602 sampai kemerdekaan Indonesia pada tanggal  17 Agustus 1945.
Dari banyaknya kolonialisme yang terjadi di Indonesia. Kolonialisme Barat yang terjadi di Indonesia bisa dijadikan topik materi presentasi yang baik dan bermanfaat bagi siswa khususnya. Dengan dijadikan media makalah , diupayakan materi ini bisa dipresentasikan untuk menambahkan pengetahuan mengenai sejarah di Indonesia khususnya.
Dengan dibuatkannya makalah tersebut diharapkan para siswa dapat mengetahui tentang pengetahuan sejarah Indonesia khususnya kolonialisme Barat yang  menjadi pokok topik presentasi.

B.        Rumusan Masalah
1.      Bagaiamana kebijakan pemerintah kolonial barat di Indonesia?
2.      Bagaiman masa kedatangan dan kemunduran bangsa Belanda di Indonesia?
3.      Bagaimana masa pemerintahan Herman Willem Daendless?
4.      Bagaimana masa pemerintahan bangsa Inggris di Indonesia?
5.      Bagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda?
6.      Bagaimana perkembangan pengaruh barat terhadap kehidupan sosial budaya?

C.        Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui kebijakan kolonial barat di Indonesia.
2.      Untuk mengetahui masa kedatangan dan kemunduran bangsa Belanda di Indonesia.
3.      Untuk mengetahui masa pemerintahan Herman Willem Daendless.
4.      Untuk mengetahui masa pemerintahan bangsa Inggris di Indonesia.
5.      Untuk mengetahui masa pemerintahan bangsa Hindia Belanda.
6.      Untuk mengetahui perkembangana pengaruh barat terhadap kehidupan sosial.
































BAB II
PEMBAHASAN


A.    KEBIJAKAN PEMERINTAH KOLONIAL BARAT DI  INDONESIA
1)      Kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia
    Pada mulanya pedagang-pedagang Belanda yang berpusat di  Rotterdam membeli rempah-rempah dari Lisabon.Pada waktu itu Belanda masih dalam penjajahan Spanyol,kemudian terjadilah perang 80 tahun,dan berhasil melepaskan Belanda terhadap Spanyol,serta menjadikan William Van Oranye sebagai pahlawan kemerdekaan Belanda.
Pada tahun 1580 Raja Philip dari Spanyol  naik tahta,ia berhasil mempersatukan Spanyol dan Portugis ,Akibatnya Belanda tidak dapat lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon yang sedang dikuasai Spanyol,hal itulah yang mendorong Belanda mulai mengadakan penjelajahan samudera untuk mendapatkan daerah asal rempah-rempah.
A.    Perjalanan Bangsa Belanda ke Indonesia
Pada tahun 1595 Linscoten berhasil menemukan tempat-tempat di P.Jawa yang bebas dari tangan Portugis dan banyak menghasilkan rempah-rempah untuk diperdagangkan,Peta yang dibuat oleh Linscoten diberi nama Interatio yang artinya keadaan didalam atau situasi di Indonesia.
Pada tahun 1595,bulan April Cornelius de Houtman dan De Keyzer dengan 4 buah kapal memimpin pelayaran menuju Nusantara dengan Route : Belanda-Pantai barat Afrika-Tanjung Harapan-Samudera Hindia-Selat Sunda-Banten,selama pelayarannya itu selalu menjauhi Route pelayaran Portugis,dan tidak singgah ke India-Malaka.
Pada bulan Juni 1596 pelayarannya berhasil berlabuh di Banten,dan pada mulanya kedatangannya mendapat sambutan baik dari masyarakat Banten.Kedatangan Belanda diharapkan dapat memajukanperdagangan dan dapat membantu usaha penyerangan ke Palembang yang dipimpin oleh raja Maulana Muhammad,akan tetapi sikap De Houtman semakin kaku dalam perdagangan (hanya mau membeli rempah-rempah pada musim panen dan membeli melalui pejabat atau cina perantara,akhirnya Ia ditangkap dan dibebaskan setelah membayar uang tebusan kemudian meninggalkan Banten.
Walaupun demikian de Houtman disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat Belanda,ia dianggap sebagai pelopor pelayaran menemukan jalan laut ke Nusantara.
Pada tanggal 28 November 1598 pelayaran baru Belanda dipimpin oleh Jacob van Neck dan Wybrect van Waerwyck dengan 8 buah kapal tiba di Banten.Pada saat itu hubungan Banten dengan Portugis sedang memburuk sehingga kedatangan Belanda diterima dengan baik.
Karena sikap Van Neck yang sangat hati-hati dan pandai mengambil hati para pembesar Banten ,maka 3 buah kapalnya yang penuh muatan rempah-rempah berhasil dikirim ke Belanda dan 5 buah kapal yang lainnya menuju Maluku.
Di Maluku ,Belanda juga diterima dengan baik oleh rakyat Maluku karena dianggap sebagai musuh Portugis yang sedang bermusuhan dengan rakyat Maluku.

B.     Terbentuknya VOC
Keberhasilan ekspedisi-ekspedisi Belanda dalam mengadakan perdagangan rempah-rempah mendorong pengusaha-pengusaha Belanda yang lainnya untuk berdagang ke Nusantara.Diantara mereka terjadi persaingan.Disamping itu mereka harus harus menghadapi persaingan dengan Portugis,Spanyol dan Inggris.Akibatnya mereka saling menderita kerugian,lebih lebih dengan sering terjadinya perampokan perampokan oleh bajak laut.
Atas prakarsa dari 2 orang tokoh Belanda yaitu Pangeran Maurits dan Johan van Olden Barneveltpada tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda dipersatukan menjadi sebuah kongsi  dagang besar yang diberinama VOC (Verenigde Oost Indesche Compagnie ) atau ‘Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur’,  pengurus pusat VOC terdiri dari 17 orang.
Pada tahun 1602 VOC membuka kantor pertamanya di Banten yang dikepalai oleh Francois Witter  
                
a)      Tujuan Dibentuknya VOC
·         Menghindari persaingan tidak sehat diantara sesama pedagang Belanda untuk keuntungan maksimal.
·         Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan,baik dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya maupun dengan bangsa-bangsa Asia.
·         Membantu dana pemerintah Belanda yang sedang berjuang menghadapi Spanyol.

b)     Hak – Hak Istimewa VOC
Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan leluasa VOC diberi hak-hak istimewa oleh pemerintah Belanda :
-          Memonopoli perdagangan
-          Mencetak dan mengedarkan uang
-          Mengangkat dan memperhentikan pegawai
-          Mengadakan perjanjian dengan raja-raja
-          Memiliki tentara untuk mempertahankan diri
-          Mendirikan benteng
-          Menyatakan perang dan damai
-          Mengangkat dan memberhentikan penguasa-penguasa setempat.

c)      Politik Ekonomi VOC
Peraturan-peraturan yg ditetapkan VOC dalam melaksanakan monopoli perdagangan antara lain :
a.       Verplichte Laverantie
Yaitu penyerahan wajib hasil bumi dengan harga  yg telah ditetapkan oleh VOC,dan melarang rakyat menjual hasil buminya selain kepada VOC.
b.      Contingenten
Yaitu kewajiban bagi rakyat untuk membayar  pajak berupa hasil bumi.
c.       Peraturan tentang ketentuan areal dan jumlah  tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam.
d.      Ekstirpasi
Yaitu hak VOC untuk menebang tanaman rempah- rempah agar tidak terjadi over produksi yg dapat menyebabkan harga rempah-rempah merosot.
e.       Pelayaran Hongi
Yaitu pelayaran dengan perahu kora-kora (perahu perang) untuk mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan VOC dan menindak pelanggarnya.

d)     Sistem Birokrasi VOC
Guna memerintah wilayah-wilayah di Nusantara VOC mengangkat seorang gubernur jendral  yg Dibantu oleh 4 orang yg disebut Raad van Indie (dewan India)
Dibawah gubernur jendral diangkat beberapa gubernur yang memimpin suatu daerah.dibawah gubernur terdapat beberapa Residen yang di-bantu oleh Asisten Residen,pemerintahan dibawahnya lagi diserahkan pada pemerintahan tradisional,seperti Raja dan Bupati.VOC menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung (Indirect rule) dengan memanfaatkan sistem Feodalisme.
Beberapa gubernur jendral VOC yang dianggap berhasil dalam mengembangkan usaha dagang dan kolonisasi VOC di Nusantara antara lain :
a)      .Jan Pieterzoon Coen (1619-1629)
Dikenal sebagai peletak dasar imperialisme Belanda di Nusantara.Ia dikenal pula dengan rencana kolonisasinya dengan memindahkan orang-orang Belanda bersama keluarganya ke Indonesia.



b)      Antonio Van Diemen (1636-1645)
Ia berhasil memperluas kekuasaan VOC ke Malaka pada tahun 1641,Ia juga mengirimkan misi pelayaran yang  dipimpin Abel Tasman ke Australia,Tasmania,Selandia baru.
c)      Joan Maetsycker  (1653-1678)
Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan VOC ke Semarang Padang dan Menado.
d)     Cornelis Speeldman (1681-1684)
Ia menghadapi perlawanan didaerah dan tidak berhasil mengalahkan Sultan Agung,Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa.

e)      Kemunduran VOC
Kemunduran dan kebangkrutan VOC terjadi sejak awal abad ke-18 disebabkan oleh :
a.       Banyak korupsi yg dilakukan oleh pegawai-pegawai VOC.
b.      Anggaran pegawai terlalu besar sebagai akibat makin luasnya wilayah kekuasaan VOC.
c.       Biaya perang untuk memadamkan perlawanan rakyat terlalu besar.
d.      Persaingan dengan konsi dagang negara lain,misalnya dengan EIC milik Inggris.
e.       Hutang VOC yang sangat besar.
f.       Pemberian deviden kepada pemegang saham walaupun usahanya mengalami kemunduran
g.      Berkembangnya faham Liberalisme sehingga monopoli perdaganganyg diterapkan VOC tidak sesuai lagi untuk diteruskan.
h.      Pendudukan Perancis terhadap negara Belanda pada tahun    1795.

f)       Kemunduran VOC
Pada tahun 1795 dibentuk panitia pembubaran VOC dan hak-hak istimewa VOC dihapus Pada tanggal 31 desember 1799 VOC dibubarkan dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta gulden.Selanjutnya semua hutang dan kekayaan VOC diambil alih oleh Pemerintah Kerajaan Belanda.

C.     Pemerintahan Hindia Belanda
Perubahan yang terjadi di Eropa pada akhir abad 18 Pada tahun 1795 Partai Patriot Belanda yg anti raja,atas bantuan Perancis berhasil merebut kekuasaan dan membentuk pemerintahan baru yg disebut Republik Bataaf  (Bataafische Republiek ),Republik ini menjadi bawahan Perancis yg sedang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte.Raja Belanda Willem V,melarikan diri dan membentuk pemerintahan peralihan di Inggris yang pada waktu itu menjadi musuh Perancis.Setelah VOC dibubarkan oleh pemerintah tersebut pada tahun 1799,tanah jajahan yang dulu dikuasai VOC kemudian diurus oleh suatu badan yang disebut Aziatische Raad (Dewan Asia).
Kekuasaan pemerintahan Belanda di Nusantara dipegang oleh gubernur jendral Johanes Siberg (1801-1804) yang menggantikan gubernur jendral Overstrateen sebagai gubernur jendral  VOC yang terakhir.
Johanes Siberg seharusnya mencerminkan sifat dari Republik Bataaf yg Liberal.Akan tetapi sebelum resmi berkuasa di Nusantara ia mengirim 2 komisaris ke Nusantara yaitu Nederburg dan Hogendrop.

2)      MASA PEMERINTAHAN HERMAN W.DAENDELS
Letak geografis Belanda yg dekat dengan Inggris menyebabkan Napoleon Bonaparte merasa perlu menduduki Belanda.Pada tahun 1806,Perancis membubarkan Republik Bataaf dan membentuk Kerajaan Belanda (Kominkrijk Holland).Napoleon kemudian mengangkat Louis Napoleon sebagai raja Belanda dan berarti sejak saat itu pemerintahan yang berkuasa di Nusantara adalah pemerintahan Belanda-Perancis.Oleh karena itu Louis Napoleon mengangkatHerman William Daendeles sebagai gubernur jen-dral di Nusantara.Dengan tugas utama mempertahankan P.Jawa dari serangan Inggris.
KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAENDELS
1)      Bidang Birokrasi Pemerintahan
a.       Pusat pemerintahan dipindahkan  kepedalaman
b.      Dewan Hindia Belanda sebagai dewan legeslatif diganti dengan Dewan Penasehat.
c.       Membentuk sekretariat negara (Algemene Secretarie).
d.      Pulau jawa dibagi pulau jawa di bagi menjadi 9 Prefektuur dan 31 kabupaten
e.       Para bupati di jadikan pemerintah Belanda dan di beri pangakat sesuai dengan ketentuan kepegawaian pemerintah Belanda.   
2)      Bidang hukum dan peradilan.
a.       Dalam bidang hukum Daendels membentuk 3 jenis pengadilan yaitu sebagai berikut:
a)      Pengadilan utuk orang eropa
b)      Pengadilan untuk orang pribumi
c)      Pengadilan untuk orang timur asing. Pengadilan untuk orang pribumi ada di setiap prefectur dengan prefect sebagai ketua dan para bupati sebagai anggota
b.      Pemberantasan koropsi tanpa pandang bulu termasuk pada bangsa Eropa.Akan tetapi ia sendiri melakukan korupsi besar-besaran dalam kasus penjualan tanah kepada fihak swasta.

3)      Bidang Militer dan Pertahanan
dalam melaksanakan tugas utamanya untuk mempertahankan P.Jawa dari serangan Inggris,Daendels mengambil langkah-langkah :
a.       Membangun jalan antara Anyer-Panarukan.
b.      Menambah jumlah angkatan perang dari 3000 orang menjadi 20.000 orang.
c.       Membangun pabrik senjata di Gresik dan Semarang
d.      Membangun pangkalan angkatan laut di Ujung Pandang dan Surabaya.
e.       Membangun benteng-benteng pertahanan.
f.       Meningkatkan kesejahteraan prajurit.

4)      Bidang Ekonomi dan Keuangan
a.       Membentuk Dewan Pengawas Keuangan negara (Algemene Rekenkaer).
b.      Mengeluarkan uang kertas
c.       Memperbaiki gaji pegawai
d.      Pajak in natura (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (verplichte laverantie) yang diterapkan pada masa VOC tetap dilanjutkan.
e.       Mengadakan monopoli perdagangan beras.
f.       Mengadakan peminjaman paksa kepada orang-orang yang dianggap mampu,bagi yg menolak akan dikenakan hukuman.
g.      Penjualan tanah kepada fihak swasta.
h.      Mengadakan Preanger Stelseel ,yaitu kewajiban bagi rakyat Priangan dan sekitarnya untuk menanam tanaman eksport : Kopi

5)      Bidang Sosial
a.       Rakyat dipaksa untuk melakukan kerja Rodi untuk membangun jalan Anyer-Panarukan.
b.      Pebudakan dibiarkan berkembang
c.       Menghapus upacara penghormatan kepada Resident,Sunan dan Sultan
d.      Membuat jaringan pos distrik dengan menggunakan kuda pos

AKHIR KEKUASAAN HERMAN W.DAENDELS
Kejatuhan Daendels antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
a.       Sikapnya yg otoriter terhadap raja-raja Banten,Yogyakarta,Cirebon menimbulkan pertentangan dan perlawanan.
b.      Penyelewengan dlam kasus penjualan tanah kepada fihak swasta dan manipulasi penjualan istana Bogor.
c.       Keburukan dalam sistem administrasi pemerintahan.

 3.  PENJAJAHAN INGGRIS DI INDONESIA (1811-1816)
a).Contingental Stelseel
    Yang diterapkan oleh Napoleon di Eropa 1806 dengan memblokade perdagangan Inggris diEropa daratan,Inggris tumbuh menjadi Negara industri besar membutuhkan daerah pemasaran yg luas,oleh karena itu India dan Indonesia akan dijadikan tempat pemasaran barang-barang industri Inggris.
b).Nusantara yg praktis dikuasai Perancis (Belanda Perancis) merupakan bahaya laten bagi kekuasaan Inggris di Asia. Ketika akhirnya Inggris menyerbu P.Jawa,penggantinya Daendels,gubernur jendral Jansen,tidak mampu bertahan dan menyerah,akhir dari penjajahan Belanda-Perancis ditandatangani dengan Kapitulasi Tuntang (18 September 1811), isinya :
   
a.       Seluruh Jawa dan sekitarnya diserahkan kepada Inggris.
b.      Semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris
c.       Semua pegawai Belanda yg mau bekerjasama dengan Inggris dapat memegang jabatannya terus
d.      Semua hutang Pemerintah Belanda yg dahulu,bukan menjadi tanggung jawab Inggris. Kapitulasi Tuntang ditandatangani tanggal 18 Sept 1811 oleh S.Auchmuty dari fihak Inggris dan Janseens dari fihak Belanda.  
   
Seminggu sebelum Kapitulasi Tuntang ,raja muda Lord Minto yg berkedudukan di India mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai wakil gubernur di P.Jawa,dalam pelaksanaannya Raffles berkuasa penuh diseluruh Nusantara.Dan cenderung mendapat tanggapan positif dari raja-raja dan rakyat setempat karena hal berikut ini :
a.       Para raja da rakyat tidak menyukai Daendels
b.      Ketika masih berkedudukan di Penang,Malaysia Raffles beberapa kali mengadakan misi rahasia ke kerajaan-kerajaan yg anti Belanda,seperti : Yogyakarta,Banten dan Palembang.
c.       Sebagai seorang yg Liberalis ,Raffles memiliki kepribadian yg simpatik,ia menjalankan politik murah hati dan sabar walaupun dalam prakteknya berlainan.

KEBIJAKAN PEMERINTAHAN RAFFLES
            Dalam menjalankan tugas Raffles didampingi oleh suatu badan penasehat (advisory Council) yang terdiri atas Gillespie,Cranssen dan Muntinghe.
1)      Bidang Pemerintahan langkah-langkah yg diambil Raffles :
a.       P.Jawa dibagi menjadi 16 Karisidenan (berlangsung sampai tahun 1964).
b.      Merubah sistem pemerintahan yg semula dilakukan oleh pengusaha pribumi menjadi system pemerintahan kolonial yg bercorak barat.
c.       Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya yg mereka peroleh secara turun tumurun.

2)      Bidang Ekonomi dan Keuangan
a.       Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman eksport.
b.      Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem peyerahan wajib (Verplichte Laverantie) yang sudah diterapkan sejak zaman VOC.
c.       Menetapkan sistem sewa tanah (landren). Untuk menentukan besarnya pajak, tanah dibagi menjadi 3 kelas, yaitu sebagai berikut.
Kelas I, yaitu tanah yang subur, dikenakan pajak  setengah dari hasil bruto.
Kelas II, yaitu tanah setengah subur, dikenakan pajak sepertiga dari hasil bruto.
Kelas III, yaitu tanah tandus, dikenakan pajak dua perlima dari hasil bruto.
d.      Pemungutan pajak pada awalnya secara perorangan.
e.       Mengadakan monopoli garam dan minuman keras.

3)      Bidang Hukum
Sistem peradilan yang diterapkan affles lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh Daendels. Apabila Daendels berorientasi kepada warna kulit (ras), Raffles lebih berorientasi kepada besar kecilnya kesalahan. Badan-badan penegak hukum yang ada pada masa Raffles adalah sebagai berikut.
a.       Court of Justice, terdapat pada setiap     residen.
b.      Court of Request, terdapat pada setiap divisi.
c.       Police of Magistrace.
Menurut Raffles pengadilan merupakan benteng untuk memperoleh keadilan.

4)      Bidang Sosial
a.       Penghapusan kerja rodi (kerja paksa)
b.      Penghapusan perbudakan, tetapi dalam praktiknya ia melanggar undang-undangnya sendiri dengan melakukan kegiatan sejenis perbudakan. Hal itu terbukti dengan pengiriman kuli-kuli dari Jawa ke Banjarmasin untuk membantu perusahaan temannya, Alexander Hare, yang sedang kekurangan tenaga kerja, sedangkan di Batavia Raffles menetapkan pajak yang tinggi bagi pemilik budak.
c.       Peniadaan pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.

5)      Bidang Ilmu Pengetahuan
a.       Ditulisnya buku berjudul History Of Java. Dalam menulis buku tersebut Raffles dibantu oleh juru bahasanya Raden Ario Notodiningrat dan Bupati Sumenep, Notokusumo II.
b.      Memberikan bantuan kepada John Crawfurd (residen Yogyakarta) untuk mengadakan penelitian yang menghasilkan sebuah buku berjudul History Of The East Indian Archipelago.
c.       Raffles juga aktif mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan
d.      Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi.
e.       Dirintisnya Kebun Raya Bogor.

BERAKHIRNYA KEKUASAAN THOMAS S. RAFFLES
Berakhirnya pemerintahan Rafflesyaitu dengan ditandai adanya Convention Of London pada tahun 1814. Perjanjian tersebut di tanda tangani oleh perwakilan Belanda dan Inggris. Isinya yaitu :
a.       Indonesia dikembalikan kepada Belanda
b.      Jajahan Belanda seperti sailan, Kaap Koloni, Guyana, tetap ditahan Inggris.
c.       Cochin (di Pantai Malabar) diambil alih oleh Inggris, sedangka Bangka diserahkan kepada Belanda sebagai gantinya.

4. PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA 1816-1942
A.    PEMERINTAHAN KOMISARIS JENDRAL
Setelah berakhirnya kekuasaan Inggris,selanjutnya yang berkuasa adalah Pemerintahan Hindia Belanda,yang pada mulanya pemerintahan Kolektif yang terdiri dari 3 orang yaitu : Flout,Buyskess dan Van Der Capellen.
   Dengan tugas utama : menormalisasikan keadaan lama (Inggris) ke alam baru (Belanda) dengan masa peralihan dari tahun 1816-1819,untuk selanjutnya yang menjadi gubernur jendral adalah Van Der Capellen (1816-1824).
Dalam menjalankan pemerintahannya,komisaris jendral melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Sistem Residen tetap dipertahankan
2)      Dalam bidang hukum sistem juri dihapuskan
3)      Kedudukan para Bupati sebagai penguasa feodal tetap dipertahankan.
4)      Desa sebagai satu kesatuan unit tetap dipertahankan dan para penguasanya dimanfaatkan untuk pelaksanaan pemungutan pajak dan hasil bumi.
5)      Dalam bidang ekonomi memberikan kesempatan kepada pengusaha-pengusaha asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Memorandum tahun 1851
Memorandum tahun 1851 dengan jelas menegaskan politik Belanda,bahwa “daerah –daerah taklukan harus memberi keuntungan materiil bagi Belanda,keuntungan yang memang menjadi tujuan penaklukkan “

B.     PENERAPAN SISTEM TANAM PAKSA
Istilah Cultuur Stelsel sebenarnya berarti sistem tanaman terjemahannya dalam bahasa Inggris adalah Culture System atau Cultivation System .Lebih tepat lagi kalau di terjemahkan menjadi System of Gouverment Controlled Agricultures karena pengertian dari Cultuur Stelsel sebenarnya adalah :”kewajiban kepada rakyat (Jawa) untuk menanam tanaman eksport yang laku dijual diEropa”,rakyat menterjemahkan dengan istilah tanam paksa.
Menurut Van Den Bosch : Cultuur Stelsel didasarkan atas hukum adat yg menyatakan bahwa barang siapa berkuasa disuatu daerah,ia memiliki tanah dan penduduknya.
a.      Latar Belakang Sistem Tanam Paksa
a)      Di Eropa, Belanda terlibat dalam peperangan-peperangan pada masa kejayaan Napoleon sehingga menghabiskan biaya besar.
b)      Terjadinya perang kemerdekaan Belgia yang diakhiri dengan pemisahan Belgia dari Belanda tahun 1830.
c)      Terjadinya perang Diponegoro (1825-1830) yang merupakan perlawanan rakyat jajahan termahal bagi Belanda (menghabiskan beaya 20.000.000 gulden).
d)     Kas negara Belanda kosong dan hutang yang ditanggung Belanda cukup berat.
e)      Pemasukan uang dari penanaman kopi tidak banyak.
f)       Kegagalan usaha mempraktikkan gagasan Liberal  (1816-1830) dalam mengeksploitasi tanah jajahan untuk memberikan keuntungan yang besar terhadap negeri induk.
b.      Aturan – Aturan Tanam Paksa
Ketentuan pokok Tanam Paksa terdapat dalam Staatblad (lembaran negara) no.22 tahun 1834,dengan ketentuan sebagai berikut :
a)      Penyediaan tanah untuk cultuur stelsel berdasarkan persetujuan
        penduduk.
b)      Tanah tersebut tidak lebih dari seperlima tanah pertanian.
c)      Tanah tersebut bebas dari pajak.
d)     Kelebihan hasil tanaman jika melebihi pajak diberikan pada petani.
e)      Pekerjaan untuk cultuur stelsel tidak melebihi waktu menanam padi
f)       Kegagalan panen yang bukan kesalahan petani merupakan tanggung jawab pemerintah.
g)      Bagi yang tidak memiliki tanah dipekerjakan dipabrik atau perkebunan pemerintah.
h)      Pelaksanaan tanam paksa diserahkan kepada pemimpin pribumi.

c.       Penyimpangan Tanam Paksa
a)      Perjanjian penyediaan tanah dilakukan dg paksaan.
b)      Tanah yang digunakan lebih dari seperlima bagian.
c)      Pengerjaan tanah untuk tanam paksa melebihi waktu menanam padi.
d)     Tanah tersebut masih terkena pajak.
e)      Kelebihan hasil panen tidak diberikan kepada petani.
f)       Kegagalan panen tanggung jawab petani.
g)      Buruh dijadikan tenaga paksaan.
Guna menjamin agar para Bupati dan kepala desa menunaikan tugasnya dg Baik,pemerintah Belanda memberikan rangsangan yg disebut cultuur procenten. Disamping penghasilan tetap.

d.      Akibat Tanam Paksa
BAGI BELANDA
1)      Meningkatnya hasil tanaman eksport dari negeri jajahan dan dijual Belanda dipasaran Eropa.
2)      Perusahaan pelayaran Belanda yang semula kembangkempis tetapi pada masa tanam paksa mendapat keuntungan besar.
3)      Pabrik-pabrik gula yg semula diusahakan kaum swasta Cina,kemudian juga dikembangkan oleh pengusaha Belanda,karena keuntungannya besar.
4)      Belanda mendapatkan keuntungan (Batiq slot) yang besar (keuntungan pertama 3 juta gulden).
BAGI INDONESIA
1)      Kemiskinan dan penderitaan fisik serta mental yg berkepanjangan
2)      Beban pajak yang berat.
3)      Pertanian,khususnya padi banyak mengalami kegagalan panen.
4)      Kelaparan dan kematian terjadi dimana-mana,seperti yang terjadi di Cirebon 1843,Demak 1848,Grobogan 1849.
5)      Jumlah penduduk di Indonesia menurun.
6)      Rakyat Indonesia mengenal tekhnik menanam jenis-jenis tanaman yang baru.
7)      Rakyat Indonesia mulai mengenal tanaman dagang yang berorientasi eksport.

C. POLITIK EKONOMI LIBERAL KOLONIAL SEJAK TAHUN 1870
a.      Latar Belakang Politik Ekonomi Liberal
Politik ekonomi liberal kolonial dilatarbelakangi oleh hal-hal sebagai berikut  :
1)      Pelaksanaan tanam paksa memberi keuntungan yg besar kepada Belanda,tetapi menimbulkan penderitaan rakyat pribumi.
2)      Berkembangnya faham liberalisme di Eropa.
3)      Kemenangan partai liberal di Belanda.
4)      Adanya Traktar Sumatera 1871,yang memberikan kebebasan bagi Belanda untuk meluaskan wilayahnya ke Aceh.
Pelaksanaan politik ekonomi liberal ditandai dengan beberapa peraturan antara lain :

a)      Reglement op het belied der regering in Nedherlandsh Indie (1854) :
      
Berisi tentang tata cara pemerintahan di Indonesia.
b)      Indishe Comtabiliteit Wet (1867) :
      
Berisi tentang perbendaharaan negara Hindia Belanda
c)      Suiker Wet Yaitu UU gula yang menetapkan bahwa tanaman tebu adalah monopoli pemerintah yg secara berangsur-angsur akan dialihkan kepada fihak swasta.
d)     Agrarish Wet (undang-undang Agraria) 1870:
    UU Agraria yg berlaku di Indonesia dari tahun 1870-1960 isinya :
·         Tanah di Indonesia dibedakan menjadi tanah tanah rakyat dan tanah milik pemerintah.
·         Tanah rakyat terdiri dari tanah bebas dan tidak bebas
·         Tanah rakyat tidak boleh dijual kepada orang lain.
·         Tanah pemerintah dapat disewakan kepada penguasa swasta sampai jangka waktu 75 tahun.
e)      Agrarisch Besluit (1870):
    Ditetapkan oleh raja Belanda dan mengatur hal-hal yang lebih rinci.

b.      Pelaksanaan Sistem Politik Ekonomi Liberal
 Setelah UU Agraria 1870 diterapkan,di Indonesia memasuki Imperalisme modern dengan diterpkan Opendeur Politiek,yaitu politik pintu terbuka terhadap modal-modal swasta asing,hal itu berati Indonesia dijadikan tempat untuk berbagai kepentingan yaitu:
a)      mendapatkan bahan mentah atau bahan baku industri di Eropa.
b)      mendapatkan tenaga kerja yg murah.
c)      menjadi tempat pemasaran barang-barang produksi Eropa.
d)     menjadi tempat penanaman modal asing.

c.       Akibat Sistem Politik Liberal
BAGI BELANDA :
a)      Memberikan keuntungan yg besar bagi kaum swasta Belanda
b)      Hasil-hasil produksi perkebunan dan pertambangan mengalir ke Belanda.
c)      Negeri Belanda menjadi pusat perdagangan hasil dari tanah jajahan.

BAGI INDONESIA :
a)      Kemerosotan tingkat kesejahteraan penduduk.
b)      Adanya krisis perkebunan pada tahun 1885 karena jatuhnya harga gula dan kopi.
c)      Menurunnya konsumsi bahan makanan,terutama beras.
d)     Menurunnya usaha kerajinan rakyat karena telah tersaingi dengan  Import dari Eropa.
e)      Pengangkutan dengan gerobak menjadi merosot penghasilannya setelah adanya angkutan kereta api.
f)       Rakyat menderita karena masih diterapkan kerja rodi dan adanya hukuman yg berat bagi yg melanggar peraturan poenalie sanctie.

C.    POLITIK ETIS
a.      Latar Belakang Politik Etis
Munculnya politik etis dilatarbelakangi oleh :
a)      Sistem ekonomi liberal tidak mengubah nasib rakyat.
b)      Tanam paksa memberi keuntungan besar bagi Belanda sebaliknya menimbulkan penderitaan rakyat.
c)      Belanda melakukan penekanan dan penindasan terhadap rakyat .
d)     Rakyat kehilangan tanah sebagai hak milik utamanya.
e)      Adanya kritik terhadap praktik kolonial liberal.

b.      Kegagalan Politik Etis
Kegagalan politik etis,tampak dalam kenyataan-kenyataan sebagai berikut :
a)      Sistem ekonomi liberal hanya memberi keuntunga besar bagi Belanda.
b)      Sangat sedikit penduduk pribumi yang memperoleh keuntungan dan kedudukan yang baik.
c)      Pegawai negeri golongan pribumi hanya dijadikan alat,
     sehingga dominasi Belanda tetap sangat besar.
B.  Perkembangan Pengaruh Barat terhadap Kehidupan Sosial Budaya

1.  Perubahan Struktur Sosial Masyarakat
Pembagian status (kedudukan) sosial pada zaman colonial Belanda ditetapkan dalam peraturan hukum ketatanegaraan Hindia Belanda (Indische Staatsregeling) tahun 1927. Menurut peraturan tersebut penggolongan penduduk Indonesia sebagai berikut.
a.    Golongan Eropa dan yang dipersamakan
1.    Bangsa Belanda dan keturunannya
2.    Bangsa-bangsa Eropa lainnya seperti Portugis, Prancis, Inggris, dan lainnya.
3.    Orang-orang bangsa lain (bukan Eropa) yang telah dipersamakan dengan Eropa karena kekayaannya, keturunan bangsawan dan pendidikan.
b.    Golongan Timur Asing
Golongan ini terdiri dari golongan Cina, Arab, India, Pakistan, dan lain-lain. Mereka berada pada lapisan menengah.
c.    Golongan Pribumi
Golongan pribumi yaitu bangsa Indonesia asli (bumiputera) yang berada pada lapisan bawah. Dalam masyarakat pribumi dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan statusnya sosialnya, yaitu lapisan bawah, menengah dan lapisan atas.
a.    Lapisan Bawah
Lapisan bawah terdiri dari rakyat jelata dan merupakan penduduk terbesar dan hidup melarat. Mereka tinggal di desa-desa sebagai petani dan buruh perkebunan, di kota-kota sebagai buruh kecil, tukang-tukang dan sebagainya.
b.    Lapisan Menengah
Lapisan menengah meliputi para pedagang kecil dan menengah, petani-petani kaya dan pegawai.
c.    Lapisan Atas
Lapisan atas terdiri atas keturunan-keturunan bangsawan atau kerabat raja yang memerintah suatu daerah. Pada umumnya mereka terbagi-bagi dalam tingkatan dan gelar sesuai dengan tingkat kedekatan hubungan darah mereka dengan raja. Golongan ini biasanya disebut elite tradisional dan elite daerah.
Disamping elite tradisional muncul juga elite temporer atau disebut juga elite agama. Kedudukan mereka pada lapisan atas sulit untuk diturunkan kepada anak cucunya. Termasuk mereka merupakan pemuka-pemuka agama sebagai pemimpin rohani, seperti ulama, dan kiai yang sangat berpengaruh tidak hanya di daerahnya, tetapi jauh melampaui batas-batas wilayahnya. Perlawanan-perlawanan daerah terhadap kolonialis dan kapitalis asing maupun terhadap elite trandisional banyak dipimpin oleh elite agama tersebut.
2.  Perluasan Pengajaran dan Mobilitas Sosial
Perluasan pengajaran makin menarik perhatian rakyat. Sekolah kemudian dianggap sebagai alat untuk dapat memasuki tingkatan hidup baru yaitu “hidup kepriyayian”, bagi golongan bawah dan untuk menambah dasar legitimasi bagi golongan atas. Kesempatan tersebut semakin luas dengan dimulainya pelebaran kelas pegawai oleh pemerintahan colonial. Hal ini mengancam kedudukan pegawai lama yang hanya bertopang pada kebanggaan keturunan.
Dengan penyebaran pengajaran, maka lapangan kerja baru diperluas dan disesuaikan dengan spesialisasi ilmu yang dimiliki sehingga kesempatan yang tersedia seharusnya sepadan. Akan tetapi, dengan adanya deskriminasi rasial maka seseorang yang memiliki kemampuan yang sama dalam kesempatan kerja dibedakan. Orang kulit putih dan anak-anak bangsawan serta pejabat tinggi pemerintah diutamakan. Sebagai akibatnya muncullah golongan terpelajar yang berada diluar sistem birokrasi pemerintah colonial Belanda. Karena kepincangan inilah  mereka bersikap menolak sistem colonial. Mereka itulah yang kemudian terpanggil untuk memimpin Pergerakan Nasional.
3.  Kedudukan dan Peran Wanita dalam Kehidupan Masyarakat
Gagasan tentang kemajuan, khususnya dikalangan kaum wanita muncul pada diri R.A Kartini (1879-1904). Gagasan tersebut dituangkan dalam surat-surat pribadinya yang diterbitkan pada tahun 1912 atas usaha J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Penerbitan buku ini menimbulkan rasa simpati mengenai gerakan emansipasi wanita di Indonesia.
Kedudukan wanita pada masa Kartini menulis suratnya tertanggal 25 Mei 1899 kepada Stella Zeehandelaar, seorang gadis Belanda, dikisahkan sebagai berikut : “kami gadis-gadis masih terikat oleh adat-istiadat lama dan sedikit sekali memperoleh kebahagiaan dari kemajuan pengajaran. Untuk keluar rumah sehari-hari dan mendapatkan pelajaran di sekolah saja sudah dianggap melanggar adat. Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun, maka saya dikurung didalam rumah, saya mesti masuk “kurungan”. Saya dikurung didalam rumah seorang diri, sunyi senyap, terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar dunia itu lagi, bila tidak disertai oleh seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi saya, dipilih oleh orang tua saya untuk saya, dikawinkan dengan saya tanpa sepengetahuan saya sendiri”.
Kehidupan gadis semacam itu sebenarnya hanya terdapat pada kalangan menak (bangsawan) yang berbeda dengan gadis-gadis dari kalangan petani maupu  pekerja. Akan tetapi, keterbelakangan pendidikan menjadi pola yang umum pada mereka. Pada golongan petani dan pekerja, perkawinan dibawah umur sering terjadi seperti halnya golongan menak. Oleh karena itulah Kartini sangat mendambakan pengajaran bagi gadis-gadis.
Usahanya yang pertama ialah mendirikan sebuah kelas kecil bagi kepentingan gadis-gadis, yang diselenggarakan 4 kali seminggu. Murid-muridnya pertama sebanyak 7 orang. Mereka mendapatkan pelajaran membaca-menulis, kerjainan tangan, masak memasak dan menjahit. Terbitnya kumpulan surat-surat R.A Kartini memberikan ispirasi bagi munculnya pergerakan kaum wanita.
Perintis gerakan emansipasi wanita lainnya, yaitu Dewi Sartika. Dewi Sartika merupakan salah seorang dari 9 wanita yang menulis gagasannya bagi sebuah panitia pemerintahan Hindia Belanda yang menyelidiki sebab-sebab kemunduran kemakmuran penduduk di Jawa, khususnya kaum wanita.
Fase berikutnya dari gerakan wanita Indonesia, diawali dengan berdirinya sebuah perkumpulan Putri Mardika, yang bertujuan untuk mencari bantuan keuangan bagi gadis-gadis yang ingin melanjutkan pelajaran. Disamping itu juga memberikan penerangan dan nasihat yang baik bagi kaum putri. Sedangkan perkumpulan Kartinifonds (dana Kartini) didirikan pada tahun 1912 atas usaha Tuan dan Nyonya C. Th. Van Deventer, yang bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah “Kartini”. Sekolah yang pertama didirikan di Semarang pada tahun 1913, kemudian menyusul di kota-kota Jakarta, Malang, Madiun danBogor.
Sejalan dengan itu muncul banyak sekali perkumpulan wanita, seperti Madju Kemuliaan di Bandung, Pawijatan Wanita di Magelang, Wanito Susilo di Pemalang, Wanita Hadi di Solo dan banyak lagi di lain tempat. Selain itu organisasi keagamaan pun memiliki bagian organisasi kewanitaanya, seperti Wanito Katholik, Aisyiah dari Muhammadiyah, Nahdatul Fataad dari NU dan Wanudyo Utomo dari SI
Di Sumatera, Karadjinan Amai Setia didirikan di kota Gadang pada tahun 1914, yang bertujuan meninggikan derajat wanita dengan jalan pelajaran menulis, berhitung dan membaca, mengatur rumah tangga, membuat kerajinan tangan dan mengatur pemasarannya. Sedangkan di Padang berdiri keoetaman Istri Minangkabau, yang bertujuan untuk menyebar luaskan pengetahuan umum, pendirian sekolah industry dan kerajinan wanita. Di Bukit Tinggi berdiri serikat kaum Ibu Sumatera. Di Gorontalo berdiri Gorontalosche Mohammedaansche Vrouwenvereeniging dan di Ambon berdiri Ina Tuni, yang merupakan bagian dari sekrikat Ambon.
Sejak tahun 1920 jumlah pekumpulan wanita bertambah banyak sekali. Apabila pada awal perkembangannya banyak dipelopori oleh para wanita dari kalagan ningrat, maka pada masa ini peranan golongan ningrat sudah tidak kentara lagi. Hal ini didorong oleh semakin luasnya pengajaran bagi kaum wanita dan adanya kesediaan organisasi-organisasi yang ada untuk membentuk bagian kewanitaan.
Perkembangan gerakan wanita kearah kegiatan politik semakin nampak setelah kaum wanita ikut ambil adil dalam kegiatan SI, PKI, PNI dan PERNI. Pergerakan kaum wanita mengikuti jejak kaum pergerakan nasional. Kongres Wanita pertama diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 setelah mendapatkan pengaruh dari diselenggarakannya Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Wanits tersebut mealhirkan Perserikataan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Tanggal 22 Desember kemudian diperingati sebaagai “Hari Ibu” sebagai hari lahirnya kesadaran yang mendalam wanita Indonesia tentanng nasibnya, kewajibannya, kedudukannya dan keanggotaannya dalam masyarakat.

























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Belanda datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596-1811,dan yang kedua kalinya pada tahun 1814-1904. Tujuan kedatangan Belanda ke Indonesia adalah untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Dan untuk melancarkan usahanya, Belanda menempuh beberapa cara yaitu membentuk VOC pada tahun 1902 dan membentuk pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Setelah masa penjajahan itu usai, Belanda meninggalkan kebudayaan dan kebijakan-kebijakan yang sebagian masih di pakai oleh Indonesia.
Indonesia pada masa pemerintahan Hindia-Belanda abad XIX sudah mengalami berbagai pergantian Gubernur Jendral tetapi yang paling menyengsarakan rakyat yaitu pada masa Gubjen, Rafles, Daendels, Van den Bosch, dan van Hogendrop. Yang menerapkan system tanam paksa, penyerahan wajib hasil pertanian, penyewaan tanah kepada rakyat, penyewaan desa pada pihak swasta dan pembuatan jalan dari Anyer sampai Panarukan.

Indonesia pernah merasakan dijajah oleh negara lain, seperti Portugis dan Inggris. Akan tetapi penjajahan itu tidak begitu lama. Baru setelah itu bangsa Indonesia mulai dijajah kembali oleh bangsa barat yaitu Belanda yang kurang lebih selama 300 tahun lamanya. Pada awalnya Belanda hanya ingin melakukan perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Akan tetapi melihat kondisi Indonesia yang begitu kaya akan rempah-rempah VOC berniat melakukan monopoli perdagangan. VOC merupakan persatuan dari berbagai perseroan dan disahkan dengan suatu piagam yang memberi hak khusus untuk berdagang, berlayar dan memegang kekuasaan. Jadi pada saat pemerintahan Hindia-Belanda, masyarakat sangat tertindas karena adanya sistem tanam paksa dan kerja rodi dan pemerintahan yang hanya mengntungka pemerintahan Belanda, tidak memperhatikan rakyat.

B. Saran
            Semoga makalah ini dapat dijadikan referensi pembelajaran atau dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan tentang sejarah kolonial barat di Indonesia.



DAFTAR PUSTAKA

http://gestafiannieva.blogspot.co.id/2015/12/perkembangan-pengaruh-barat-terhadap.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar