Jumat, 11 Agustus 2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Kerajinan dari Gips“ ini dengan tepat waktu.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini.

Pada kesempatan ini, dengan tulus ikhlas kami menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orangtua penyusun, Bapak /Ibu guru dan teman-teman yang telah memberikan bantuan dan partisipasinya baik dalam bentuk moril maupun materiil untuk keberhasilan dalam penyusunan makalah ini.

Kami selaku penyusun berharap semoga makalah ini ada guna dan manfaatnya bagi para pembaca. Amin.


                                                            Megang Sakti,             Agustus 2017



Penyusun

Rabu, 09 Agustus 2017

Resume VOC lengkap

Resume VOC

VOC merupakan singkatan dari Vereenidge Oostindische Compagnie yang berarti “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur”. Penamaan Hindia Timur karena ada juga persekutuan dagang Hindia Barat yang bernama Geoctroyeerde Westindische Compagnie.

Pengertian, Tujuan, Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya VOC di Indonesia

A.    Pengertian VOC
VOC adalah kongsi dagang asal Belanda yang memonopoli aktivitas perdagangan di Asia dan menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur.
Sebagai sebuah kongsi dagang, VOC memiliki beragam hak istimewa dan kewenangan yang sangat luas. Walau hanya sebuah kongsi dagang saja, VOC didukung penuh oleh negara (Belanda) dan difasilitasi secara istimewa.
Misalnya VOC boleh memiliki pasukan perang dan mengadakan perjanjian dengan negara lain. Ini juga alasan mengapa VOC sering disebut sebagai negara di dalam negara.
VOC oleh kalangan orang Indonesia sering juga disebut dengan Kumpeni atau Kompeni. Mengapa ? Karena umumnya mayoritas orang Indonesia lebih mudah dalam pengucapannya (diambil dari kata compagnie). Namun rakyat Nusantara lebih mengenal Kompeni sebagai tentara Belanda bukan sebagai sebuah kongsi dagang.

B.     Latar Belakang Berdirinya VOC
Latar belakang secara singkat :
  • Keinginan untuk memonopoli perdagangan.
  • Menghilangkan persaingan antar pedagang Belanda dan Eropa
Latar belakang secara kronologis :
Pedagang dari bangsa Barat datang ke Indonesia dengan itikad baik dan mulai membentuk kongsi dagang. Seiring berjalannya waktu, kongsi dagang di Nusantara semakin banyak hingga timbul persaingan antara kongsi dagang satu dengan lainnya. Persaingan tersebut semakin ketat hingga tidak mengenal kongsi sesama bangsa. Hal ini menyebabkan kerugian terhadap pemerintah Belanda karena para pedagang Belanda juga saling berseteru.
Sehubungan dengan hal itu, pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal) khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk kongsi dagang yang lebih besar dengan membentuk perusahaan dagang, seperti yang telah dilakukan oleh Inggris (EIC) dan Perancis (French East India Company pada tahun 1604).

Usulan tersebut mendapat sambutan baik, dan pada 20 Maret 1602 didirikanlah kongsi dagang “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur” atau lebih dikenal sebagai VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).

C.    Sejarah Berdirinya VOC
Perjalanan mengarungi jalur laut oleh penjelajah untuk mencari keuntungan dan kekayaan pada akhirnya tercapai. Berbagai tujuan dapat dikatakan berhasil setelah menemukan daerah penghasil rempah-rempah di wilayah Nusantara. Pada awalnya, bangsa Eropa datang ke Asia Timur dan Tenggara (termasuk Nusantara) adalah untuk berdagang, termasuk juga dengan bangsa Belanda.
Misi dagang tersebut kemudian dilanjutkan dengan membentuk kolonialisasi (politik pemukiman) dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera, Jawa, dan Maluku. Hal tersebut lalu menjadi cikal bakal kolonialisasi di Indonesia.
Pada tahun 1591, Portugis melakukan kerjasama dengan Jerman, Spanyol dan Italia menggunakan Kota Hamburg sebagai pelabuhan utama. Kota itu digunakan untuk mendistribusikan barang dari Asia dan memindahkan jalur perdagangan agar tidak melewati Belanda.
Hal ini justru membuat perdagangan Portugis tidak efisien dan tidak mampu menyuplai permintaan yang tinggi, terutama lada. Lambat laun harga lada melonjak drastis kala itu.
Karena beragam faktor tersebut, Belanda akhirnya memutuskan ikut masuk ke perdagangan rempah-rempah dunia. Ekspedisi Belanda pun mulai dilakukan, hingga akhirnya Jan Huygen van Linschoten dan Cornelis de Houtman menemukan “jalur rahasia”. Penemuan jalur rahasia ini merupakan kesuksesan bagi Belanda, terutama keberhasilan Cornelis de Houtman atas ekspedisinya.
Setelah penemuan jalur tersebut, Belanda mulai melakukan ekspedisi kembali pada tahun 1596 dan singgah di Banten yang merupakan Pelabuhan utama di Pulau Jawa (1595-1597).  Ekspedisi yang dipimpin Cornelis tersebut merupakan kontak pertama antara Indonesia dengan Belanda.
Ketika sampai di Banten, Belanda mendapat perseteruan dari Portugis dan penduduk lokal. Belanda mundur lalu melanjutkan perjalanannya ke arah timur melalui pantai utara Jawa. Perjalanan tidak berjalan dengan mulus, Belanda diserang penduduk lokal di Sedayu (12 awak meninggal) dan mendapat perseteruan dari penduduk lokal Madura (pimpinan lokal terbunuh).
Karena banyak korban, akhirnya Belanda pulang ke negerinya dengan membawa rempah-rempah sebagai keuntungan yang melimpah.
Kembalinya Cornelis ke negerinya menyebabkan bangsa Belanda berbondong-bondong datang ke Nusantara untuk berdagang guna mencari untung. Semakin ramainya pedagang Belanda di Nusantara menyebabkan persaingan dagang semakin ketat.
Para pedagang Portugis bersaing dengan pedagang Spanyol, pedagang Spanyol bersaing dengan Inggris, Inggris bersaing dengan Belanda, dan seterusnya hingga antar bangsa pun saling bersaing.
Semakin banyaknya pedagang bangsa asing, tentu kurang baik untuk mencari keuntungan. Hal ini akhirnya disiasati melalui kerjasama membentuk sebuah kongsi dagang guna memperkuat kedudukan di “Dunia Timur”. Masing-masing kongsi dagang dari suatu negara membentuk persekutuan dagang bersama.
Adapun Inggris yang membentuk perusahaan dagang Asia pada 31 Desember 1600 dan dinamai “The British East India Company “ (sering disebut EIC) yang berpusat di Kalkuta, India. Dari Kalkuta, kekuatan dan kebijakan di “Dunia Timur” dikendalikan. Bahkan pada tahun 1811, kedudukan Inggris begitu kuat dan meluas bahkan pernah berhasil menempatkan kekuasaannya di Nusantara.
Ketatnya persaingan dagang juga berlaku antar pedagang Belanda. Antar kongsi dagang ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya walau pesaingnya adalah pedagang dari negeri sendiri.
Hal ini mendapat tanggapan serius dari pemerintah Belanda, karena bukan tidak mungkin Belanda akan sangat merugi.
Sehubungan kejadian itu,  pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal), khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk kongsi dagang yang lebih besar, dengan membentuk perusahaan dagang seperti yang telah dilakukan oleh Inggris dan Perancis.
Usulan ini disambut dengan baik dan terlaksana 4 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 20 Maret 1602 dengan menghabiskan modal pertamanya sekitar 6,5 miliar gulden. Kongsi dagang itu kemudian diberi nama VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) dan dalam bahasa Indonesia berarti “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur”, yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda.


D.    Tujuan Pembentukkan VOC
Tujuan pembentukan VOC seperti tertuang dalam perundingan 15 Januari 1602 adalah untuk “menimbulkan bencana pada musuh dan guna keamanan tanah air”. Maksud dari musuh kala itu adalah bangsa Spanyol dan Portugis yang bersekutu untuk merebut dominasi kekuasaan di Asia pada kurun waktu antara Juni 1580 – Desember 1640.
Adapun tujuan lainnya yaitu :
  • Membantu dana pemerintahan Belanda.
  • Menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
  • Menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Indonesia.
  • Menghindari persaingan curang yang akan merugikan para pedagang Belanda.
  • Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.
  • Memperkuat kedudukan Belanda agar tidak tersaingi Portugis dan bangsa Eropa lainnya.
  • Agar dapat memonopoli perdagangan di Nusantara terutama memonopoli rempah-rempah.
E.     Sistem Birokrasi Politik VOC
Awal mulanya, VOC dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas. Seiring berjalannya waktu, VOC mulai memperoleh kekuasaannya di berbagai daerah. Hingga pada akhirnya kekuasaan VOC sangat luas dan tidak memungkinkan untuk dipimpin oleh Dewan 17.
Untuk memerintah kekuasaan VOC yang sangat luas, tentunya diperlukan seorang pemimpin yang dapat diandalkan. Sehubungan hal tersebut, maka diangkatlah jabatan Gubernur Jenderal yang akan memimpin sistem monopoli VOC. Tujuannya ? Tentu agar lebih efektif dan produktif.
Dalam memimpin, seorang Gubernur dibantu oleh empat orang anggota yang disebut Raad van Indie (Dewan India).
Di bawah Gubernur Jenderal terdapat gubernur yang memimpin suatu daerah, di bawahnya lagi ada residen yang dibantu asisten residen.
Pieter Both sebagai Gubernur pertama harus melakukan tugasnya dengan baik. Pada tahun 1610, ia mendirikan pos perdagangan di Banten dan pada tahun itu juga ia meninggalkan Banten untuk memasuki Jayakarta.
Pangeran Wijayakrama sebagai penguasa Jayakarta sangat terbuka dalam hal perdagangan. Jadi pedagang asal manapun boleh berdagang di sana. Karena keterbukaan itulah menjadikan Jayakarta sebagai kota yang sangat ramai.
Di tahun  1611, Pieter Both melakukan perjanjian dengan penguasa Jayakarta untuk membeli tanah seluas 50x50 vadem (1 vadem =182 cm). Lokasinya di timur Muara Ciliwung. Lokasi ini lalu didirikan bangunan sebagai basis administrasi VOC di Nusantara.
Kesuksesan Pieter Both lainnya adalah mengadakan perjanjian dan menanamkan pengaruhnya di Maluku kemudian berhasil mendirikan perdagangan di Ambon. Setelah itu Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon (1605-1611) dan di Maluku (1621- 1623).

Kenapa Jayakarta dipilih sebagai pusat kedudukan VOC ? 

Ini alasannya...



  • Jayakarta lebih strategis dibandingkan dengan Ambon karena terletak di tengah jalur perdagangan Asia.
  • Jayakarta memudahkan VOC menyingkirkan Portugis di Selat Malaka.

Pada awalnya, orang Belanda bersikap baik dengan rakyat. Sikap baik dari rakyat juga dimanfaatkan VOC untuk memperkuat kedudukannya di Nusantara. Seiring berjalannya waktu, sikap orang Belanda berubah menjadi sombong, congkak dan tamak. Karena merasakan nikmatnya tinggal di Nusantara, Belanda semakin bernafsu untuk menguasai dan menghalalkan segala cara, seperti paksaan dan kekerasan demi memperoleh keuntungan.
Sikap tersebut membuat kebencian rakyat, dan pada 1618 Sultan Banten dibantu tentara Inggris di bawah laksamana Thomas Dale berhasil mengusir VOC dari Jayakarta. Setelah VOC tersingkir, selanjutnya rakyat mengusir Inggris dari jayakarta pada 1619, dan akhirnya Jayakarta dikuasai oleh kesultanan Banten.
Saat JP. Coen dilantik sebagai Gubernur jenderal, ia mulai menjalankan aksinya. Ia sangat kejam dan ambisius. Merasa bangsanya dipermalukan Banten dan Inggris, ia mempersiapkan pasukan untuk menyerang Jayakarta. 18 kapal perangnya mengepung Jayakarta lalu membumihanguskannya pada 30 Mei 1619.
Setelah dihancurkan, Belanda mendirikan kota kembali bergaya kota dan bangunan di Belanda. Jayakarta hilang, dan muncul kota baru yang dinamai Batavia.
Gubernur Jenderal VOC yang dapat dikatakan berhasil lainnya dalam melakukan pengembangan usaha perdagangan dan kolonialisme di Indonesia, diantaranya :
  1. Jan Pieterszoon Coen : Pendiri Batavia dan pencetus kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia.
  2. Antonio van Diemen : Memperluas kekuasaan VOC ke Malaka tahun 1641 dan mengirim misi pelayaran ke Australia dan Selandia Baru.
  3. Joan Maetsuycker : Memperluas kekuasaan ke Padang, Semarang, dan Manado.
  4. Cornelis Speelman : Mengalahkan perlawanan Sultan Hasanuddin dari Makassar, meredakan pembrontakan Trunojoyo di mataram, dan mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.
Pelaksanaan sistem pemerintahan oleh VOC menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung dengan memanfaatkan sistem feodalisme yang sudah berkembang di Nusantara.

F.     Gurbernur VOC
Dalam mewujudkan tujuannya, VOC telah beberapa kali melakukan pergantian pimpinan kepengurusan. Berikut beberapa nama Gubernur Jendral yang memimpin VOC :

1610-1614 Pieter Both
1614-1615 Gerard Reynest
1616-1619 Laurens Reael
1619-1623 Jan Pieterszoon Coen
1623-1627 Pieter de Carpienter
1627-1629 Jan Pieterszoon Coen
1629-1632 Jacques Specx
1632-1636 Hendrik Brouwer
1636-1645 Antonio van Diemen
1645-1650 Cornelis van der Lijn
1650-1653 Carel Reyniersz
1653-1678 Joan Maetsuycker
1678-1681 Rijckloff van Goens
1681-1684 Cornelis Speelman
1684-1691 Johannes Camphuys
1691-1704 Willem van Outhoorn
1704-1709 Joan van Hoorn
1709-1713 Abraham van Riebereck
1713-1718 Christoffel van Swol
1718-1725 Hendrick Zwaardecroon
1725-1729 Mattheus de Haan
1729-1731 Diederik Durven
1731-1735 Dirk van Cloon
1735-1737 Abraham Patras
1737-1741 Adriaan Valckenier
1741-1743 Johannes Thedens
1743-1750 Gustaaf Willem baron van Imhoff
1750-1761 Jacob Mossel
1761-1775 Petrus Albertus van der Parra
1775-1777 Jeremias van Riemsdijk
1777-1780 Reinier de Klerk
1780-1796 Willem Arnold Alting
1798- Pieter Gerardus van Overstraten

G.    Istilah Penting dalam VOC
·         Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII) : Parlemen yang memimpin VOC pertama kali, yang beranggotakan 17 orang dan berkedudukan di Amsterdam, Belanda.
  • Pelayaran hongi : Pelayaran dengan menggunakan kapal kora-kora yang dipersenjatai guna mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
  • Devide at Impera : Suatu politik yang dilakukan VOC untuk mengadu domba kerajaan di Nusantara agar terpecah-belah sehingga mempermudah memonopoli perdagangan.
  • Gubernur Jenderal : Jabatan tertinggi yang mengurus dan mengendalikan kekuasaan jajahan VOC.
  • Dewan Hindia (Raad van Indie): Jabatan yang berperan sebagai penasehat Gubernur Jenderal dan mengawasi kepemimpinannya.
  • Dividen : Pembayaran keuntungan oleh pemilik saham.
  • Gulden : Mata uang Belanda saat itu.
  • Hak Octroi : Hak istimewa yang dimiliki VOC dan bersifat mutlak untuk diakui dan dilaksanakan layaknya bertindak sebagai suatu negara di dalam negara.


Selasa, 08 Agustus 2017

Kelompok sosial dan Organisasi Formal serta Contoh struktur komunitas motor gede

Kelompok Sosial dan Organisasi Formal
Serta Contoh Komunitas Motor Gede

A.   Kelompok Sosial
Kelompok sosial adalah suatu kumpulan dua orang atau lebih yang tergabung dalam suatu wadah yang mempunyai tujuan sama, visi dan misi sama, dan masing masing mempunyai tugas untuk mencapai tujuan tersebut dan mempunyai aturan-aturan yang harus dilakukan. Dalamkelompok sosial terdapat struktur organisasi atau sering disebut kepengurusan. Kepengurusan tersebut sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh anggota kelompok tersebut. Setiap kelompok sosial memiliki kepentingan yang berbeda beda

Kriteria kelompok sosial menurut soerjono soekanto :
1.      setiap anggota kelompok sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan
2.      ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainya
3.      ada suatu faktor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antar mereka bertambah erat dan solid misal memiliki kesamaan nasib ,kepentingan,tujuan, dan ideologi yang sama. Dengan memiliki kesamaan tadi maka kelompok sosial akan terbentuk dan akan menjadi kelompok yang solid
4.      berstruktur,berkaidahdan memiliki pola perilaku, yang dimaksud adalah kelompok memiliki struktur organisasi seperti ketua wakil dan lain sebagai nya, lalu memiliki pola perilaku adalah memiliki tata cara/aturan masing masing pada tiap kelompok sosial sesuai kesepakatan yang telah dibuat pada tiap kelompok
5.      bersistem dan berproses. Bersistem yaitu kelompok sosial memiliki sisitem, satu kelompok dengan kelompok lainya tentu berbeda sistem baik sisitem dalam organisasi dsb. Berproses, kelompok sosial tentu nya memiliki poses dalam pembentukan kelompok tersebut.

Dasar dasar pembentukan kelompok sosial :
1.      Memiliki kepentingan yang sama (common interst)
2.      Darah dan keturunan yang sama
3.      Daerah yang sama
4.      Ciri ciri badaniah yang sama
Berikut merupakan klasifikasi kelompok sosial
1.      Paguyuban(gemeinschaft) kelompok sosial yang memiliki ikatan batin yang murni dan alamiah, paguyuban menganut sistem gotong royong dan kerja sama dan tidak mengutamakan uang dalam saling membantu satu sama lain. Paguyuban biasanya kelompok seperti ini terdapat di daerah pedesaan. Paguyuban memiliki rasa persaudaraan yang kental dan cenderungsatu sama lain saling mengenal. Paguyuban bersifat informal
2.      Patembayan (gessselschaft) kelompok patembayan, kelompok sosial yang anggota nya memiliki ikatan lahir yang pendek. Yang di maksud ikatan lahir yang pendek adalah mereka cenderung masih baru salig mengenal. Patembayan biasanya berada di daerah perkotaan, kelompok ini bersifat formal sehingga memiliki struktur dan tata aturan contoh patembayan adalah ikatan buruh pabrik

Jenis jenis kelompok sosial dan peranannya
1.      Kelompok primer (face to face group) yaitu kelompok sosial yang anggota nyasering saling bertemu dan bertatap muka dan saling mengenal lebih dekat dan cenderung akrab satu sama lain di karenakan kedekatan tersebut. Anggota kelompok primer saling mengerti persaan satu sama lain. Kelompok primer merupakan kelompok yang sangat penting dalam kehidupan sehari hari karena manusia pertama tama berkembang dan tumbuh pada kelompok primer. Kelompok primer sering di sebut dengan keluarga
2.      Kelompok sekunder. Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung. Kelompok sekuderjauh dari formal dan kurang bersifat kekeluargaan Peranan kelompok sekunder dalam kehidupan sehari hari adalah alam kehidupan manusia untuk mencapaitujuan tertentu
3.      Kelompok formal(organisasi formal) dan informal. Perbedaan yang mendasar pada kelompok formal dan informal adalah adanya status resmi dan tidak resmi, kelompok formal kedudukann nya memiliki status yang resmi sedangkan kelompok informal merupakan sebaliknya dari kelompok formal. Interaksi dalam kelompok informal lebih mirip dengan interaksi kelompok primer yang cenderung bersifat kekeluargaan dan saling mengenal satu sama lain sedangkan interaksi kelompok formal lebih mirip dengann kelompok sekunder,bercorak pertimbangan rasional objektif

B.   ORGANISASI FORMAL

Pengertian Organisasi Formal
Pengertian Organisasi formal ialah suatu organisasi yang memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan secara jelas. Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat dalam suatu organisasi). Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara jelas disusun. Organisasi formal harus memiliki tujuan atau sasaran. Tujuan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur organisasi yang akan dibuat.

Struktur organisasi (desain organisasi) dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, atau pun orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialis kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.

Unsur dan Tiang Dasar Organisasi Formal 3 Unsur pokok organisasi formal :
1.      Sistem kegiatan terkoordinasi
2.      Kelompok orang
3.      Kerjasama mencapai tujuan

Tiang dasar teori organisasi formal:
1.      Pembagian kerja
2.      Proses skalar (hirarki) dan fungsional (horizontal)
3.      Struktur
4.      Rentang kendali

Ciri-Ciri Organisasi Formal
1.      Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan.
2.      Tujuan atau rencana organisasi terbagi kedalam tugas-tugas; tugas-tugas organisasi disalurkan  di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi
3.      Kewenangan untuk melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan. Yakni, satu-satunya saat bahwa seseorang diberi kewenangan untuk melakukan tugas-tugas jabatan adalah ketika ia secara sah menduduki jabatannya.
4.      Garis-garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkis. Hierarkinya mengambil bentuk umum suatu piramida, yang menunjukkan setiap pegawai bertanggung jawab kepada atasannya atas keputusan-keputusan bawahannya serta keputusan-keputusannya sendiri.
5.      Suatu sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas, yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.
6.      Proesedur dalam organisasi bersifat formal dan impersonal – yakni, peraturan-peraturan organisasi berlaku bagi setiap orang. Jabatan diharapkan memiliki orientasi yang impersonal dalam hubungan mereka dengan langganan dan pejabat lainnya.
7.      Suatu sikap dan prosedur untuk menerapkan suatu sistem disiplin merupakan bagian dari organisasi.
8.      Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.
9.      Pegawai dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis, alih-alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.
10.  Meskipun pekerjaan dalam birokrasi berdasarkan kecakapan teknis, kenaikan jabatan dilakukan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.

Ciri-ciri suatu organisasi formal berkaitan dengan suatu fenomena yang disebut komunikasi jabatan. Hubungan dibentuk antara jabatan-jabatan, bukan antara orang-orang. Keseluruhan organisasi terdiri dari jaringan jabatan.

Ada pun faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi formal adalah sebagai berikut :
1.      Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya Strategi menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun diantara para pimpinan dan bawahan. Menurut Chandler, pengubahan strategi mengakibatkan perubahan desain organisasional. Peningkatan kompleksitas menyebabkan struktur tersentralisasi menjadi tidak efisien. Perusahaan-perusahaan harus mengubah strukturnya menjadi struktur yang desentralisasi.
2.      Lingkungan yang melingkupinya
·         Dalam hal ini perlu dibedakan tiga tipe lingkungan sebagai berikut : ·        Lingkungan stabil, yaitu lingkungan dengan sedikit atau tanpa perubahan yang tidak diperkirakan atau secara tiba-tiba.
·         Lingkungan berubah (changing environment), yaitu lingkungan di mana inovasi (perubahan) mungkin terjadi dalam setiap atau seluruh bidang. ·        Lingkungan bergejolak (turbulent environment), yaitu lingkungan di mana sering terjadi perubahan secara drastis.
3.      Teknologi yang digunakan Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang- barang atau jasa akan membedakan struktur organisasi. Semakin kompleks teknologi, semakin besar jumlah manajer dan tingkatan manajemen. Perusahaan yang ingin sukses harus memiliki struktur yang sesuai dengan tingkat teknologinya.
4.      Ukuran organisasi. Besarnya organisasi secara keseluruhan maupun satuan kerjanya yang sangat mempengaruhi struktur organisasi.Semakin besar ukuran organisasi, struktur organisasi akan semakin kompleks dan harus dipilih struktur yang tepat.
5.      Anggota (pegawai/karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi Kemampuan dan cara berpikir para anggota, serta kebutuhan mereka untuk bekerja sama harus diperhatikan dalam merancang struktur organisasi.

Kebutuhan manajer dalam pembuatan keputusan juga akan mempengaruhi saluran komunikasi, wewenang dan hubungan diantara satuan kerja pada rancangan struktur organisasi. Para manajer organisasi, terutama para manajer puncak, akan mempengaruhi pemilihan strategi, dan pemilihan strategi ini akan mempengaruhi tipe struktur yang digunakan dalam organisasi.

Model- model struktur organisasi Formal :
1.      Model tradisional ·       
-          Dirancang terutama untuk lingkungan yang stabil dan pengubahan yang terjadi di dalamnya dapat diperkirakan.
-          Cenderung tidak efisien dalam lingkungan yang sangat bergejolak.
-          Pada model ini terdapat beberapa tingkatan yaitu :
·         Manajemen Puncak, pelaksananya adalah Direktur Pelaksana dan Manajer Umum.
·         Manajemen Menengah, pelaksananya adalah Manajer Departemen Fungsional/ Divisi dan Kepala Bagian.
·          Manajemen Lini pertama, pelaksananya adalah penyelia/ Supervisor/ Mandor/ Kepala Tukang dan Pengawas Tingkat pertama.
·         Karyawan Operasional.
2.      Model hubungan manusiawi
Dalam model ini juga diterima konsep speialisasi, rutinitas, dan pemisahan perencanaan dari pelaksanaan sebagai ciri utama organisasi yang efektif.
Model ini secara eksplisit mengakui bahwa orang tidaklah selalu bertindak persis segaris dengan posisi menurut struktur formalnya. Hal ini mengandung perhatian manajemen akan adanya ”struktur informal” yang ada di seluruh elemen-elemen organisasi. Model hubungan manusiawi lebih mengusulkan bermacam-macam penyesuaian, teknik-teknik, dan perilaku-perilaku struktur offline:
-          Kepemimpinannya dapat mengurangi friksi- friksi di antara orang-orang dan jabatan – jabatan mereka dalam organisasi, serta menghubungkan kerja sama yang baik antar para anggota organisasi.
-          Menyarankan manajer memanfaatkan organisasi informal dalam departemennya.
-          Ditunjukkan sejumlah teknik atau program yang biasanya di bawah yurisdiksi kewenangan departemen personalia.
3.      Model sumber daya manusia
Implikasi model sumber daya manusia pada struktur organisasi, walaupun abstrak adalah jelas. Model ini berpendapat bahwa pada hakekatnya manusia mempunyai kemampuan untuk mempelajari pengarahan dan pengendalian diri lebih kreatif dari pada pekerjaannya sekarang, dan bahwa tugas manajer adalah menciptakan suatu lingkungan di mana mereka dapat meningkatkan sumbangan kapasitasnya pada organisasi. Konsep model sumber daya manusia mencoba memaksimumkan fleksibilitas baik di dalam maupun di antara posisi – posisi yang berinteraksi. Hal tersebut mengharuskan anggota – anggota organisasi mempunyai hal – hal sebagai berikut :
-          Suatu tujuan tingkat operasional yang telah disetujui bersama
-          Jalur untuk memperoleh sumber informasi vertikal dan horisontal yang relevan
-          Kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap informasi dengan keputusan dan perilaku yang mengarahkan pencapaian tujuan dengan efisien. Adapun mengenai tujuan organisasi model sumber daya manusia ditetapkan bersama oleh manajer dan bawahannya, sehingga tujuan bersama tersebut jelas merubah hubungan atasan dan bawahan yang diatur oleh model tradisional dan hubungan manusiawi.

Unsur – unsur struktur organisasi terdiri dari :
1.      Spesialisasi kegiatan
2.      Standarisasi kegiatan
3.      Koordinasi kegiatan
4.      Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan
5.      Ukuran satuan kerja

Dimensi- dimensi dasar struktur organisasi formal :
1.      Pembagian kerja ·       
-          Relatif dapat menurunkan keterlibatan kerja, maupun kerja karyawan
-          Menimbulkan kebosanan karena pekerjaan menjadi monoton ·
-          Mengakibatkan tingkat komitmen karyawan lebih rendah dan kehilangan motivasi
-          Dapat mempengaruhi tingkat prestasi organisasi. 
2.      Wewenang Hak melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu.
3.      Kekuasaan Kemampuan untuk melakukan hak yang terjadi dalam wewenang
4.      Tanggung jawab Kewajiban untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini adalah kewajiban seseorang untuk melaksanakan tugas atau fungsi organisasi atau kewajiban seorang bawahan yang diberi tugas atasannya untuk melakukan sesuatu yang diinginkan atasan tersebut.
5.      Rentang kendali Berapa orang jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer.
6.      Struktur tall
-          Mempunyai rentang kendali sedikit / sempit
-          Hanya sedikit jumlah karyawan yang berada di bawah kendali seorang atasan sehingga memungkinkan pengawasan dan disiplin yang ketat.
-          Diterapkan dalam struktur klasik
7.      Struktur flat Mempunyai rentang kendali melebar / banyak dalam hal rentang kendali dan tingkatan manajemen.
8.      Hubungan lini dan staff
9.      Komunikasi dalam organisasi
10.  Sentralisasi dan desentralisasi Sentralisasi wewenang terjadi bila wewenang dipegang atau dipusatkan pada seseorang atau beberapa orang. Desentralisasi wewenang terjadi bila wewenang didelegasikan atau dilimpahkan meluas dalam suatu organisasi.
11.  Rantai wewenang scalar Berhubungan dengan jumlah tingkatan dalam suatu organisasi dan secara otomatis ada kapan saja seorang individu dijadikan bawahan pada seorang atasan. Untuk membedakan tingkatan wewenang dalam organisasi adalah semakin tinggi tingkatan semakin besar wewenang.
12.  Kesatuan perintah Bertujuan untuk memudahkan koordinasi.

C.   Contoh Organisasi Formal Komunitas Motor Gede
STRUKTUR ORGANISASI KCS PERIODE 2015-2017
pengurus KCS 2015 - 2017



DESKRIPSI PERANAN & TUGAS PENGURUS KCS  2015 – 2017

I. KETUA UMUM :
  • Sebagai representatif atau perwakilan organisasi
  • Membuat perencanaan, mengusulkan-menjawab-memberikan kontrol positif kegiatan KCS secara umum
  • Bertanggung jawab terhadap seluruh Anggota maupun kegiatan resmi KCS
  • Memiliki pertanggungan jawab terhadap anggota KCS
  • Mengawasi dan mengontrol divisi dalam organisasi di bawah Wakil I & Wakil II

II. KETUA HARIAN I :
  • Mewakili Ketua dalam kegiatan harian KCS untuk segala sesuatu yang bersifat internal
  • Membuat dan menjaga hubungan baik antara anggota dan antar divisi
  • Merencanakan, melaksanakan dan menjamin dinamika kegiatan KCS secara internal
  • Bersama Ketua turut berertanggung jawab terhadap anggota KCS
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Ketua secara langsung

III. KETUA HARIAN II :
  • Melakukan koordinasi lintas bidang dengan Wakil I
  • Mewakili Ketua dalam kegiatan harian KCS untuk segala sesuatu yang bersifat eksternal
  • Memimpin divisi dalam kegiatan yang bersifat eksternal
  • Menjaga hubungan baik antar anggota komunitas dengan induk organisasi seperti SHC, PHSJT, ASFI. maupun dengan organisasi luar lainnya.
  • Memimpin divisi dibawah kepemimpinannya untuk urusan penginformasian kegiatan KCS seperti pelaksanaan mailinglist, Website maupun media sosial komunitas
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Ketua secara langsung

SEKRETARIS         :
  • Membantu tugas ketua dalam kegiatas surat menyurat
  • Menyimpan dokumen-dokumen
  • Menghimpun data seluruh anggota sesuai dengan ketentuan formulir pendaftaran yang ada
  • Merekap data keanggotaan aktif maupun non-aktif KCS
  • Mencatat hasil forum (notulen) dalam kegiatan atau rapat
  • Melakukan koordinasi intens dengan pengurus lain
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Ketua Harian I & II

BENDAHARA I       :
  • Bertanggung jawab keuangan internal seperti uang pendaftaran, kas bulanan ataupun transaksi yang bersifat internal
  • Bertanggung jawab atas semua transaksi keuangan yang bersifat internal
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Ketua Harian I

BENDAHARA II     :
  • Bertanggung jawab atas keuangan yang bersifat eksternal seperti sponsorsip ataupun sumbangan tambahan anggota diluar kas juga sumbangan dari luar komunitas
  • Bertanggung jawab atas semua transaksi keuangan yang bersifat eksternal
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Ketua Harian II

DIV. HUMAS I       :
  • Menyeimbangkan komunikasi & hubungan baik anggota juga dengan pihak luar
  • Menampung segala bentuk masukan maupun kritikan anggota terhadap organisasi yang nantinya diangkat di forum
  • Menyebarkan informasi seputar kegiatan organisasi ke anggota KCS baik calon prospek, prospek hingga yang telah menjadi anggota KCS
  • Mengembangkan hubungan antar komunitas / club di luar maupun dengan instansi pemerintah dan masyarakat
  • Mencari informasi dari pihak luar
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Ketua Harian I

DIV. HUMAS II    :
  • Turut membantu Pengurus Organisasi untuk keperluan informasi ke dalam maupun ke luar seperti pembuatan banner, piagam dsb
  • Menyebarkan informasi Kepada seluruh anggota KCS dan penginformasian pada Facebook group, mailing list dan situs Web
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Humas I 
DIV. KEANGGOTAAN :
  • Membantu mensosialisasikan tata tertib/peraturan KCS kepada calon prospek, prospek hingga telah menjadi anggota
  • Bertanggung jawab terhadap pendataan & penilaian anggota
  • Mencatat segala pengaduan-pengaduan anggota yang kemudian diserahkan ke forum
  • Berkordinasi dengan divisi tatib perihal penyimpangan maupun pelanggaran anggota
  • Memiliki pertanggungjawaban kepada Wakil I

DIV. TATIB :
  • Bertanggung jawab terhadap ketentraman dan ketertiban selama kegiatan KCS berlangsung baik secara internal maupun eksternal
  • Turut menjaga kedisiplinan anggota dan pengurus sesuai dengan peraturan pengurus dan AD-ART organisasi
  • Bersama Divisi keanggotaan melakukan evaluasi keaktifan anggota pada program kerja pengurus
  • Melakukan penertiban atribut KCS terhadap seluruh anggota
  • Bertanggung jawab aktif sebagai mediator antar komunitas/club juga antar anggota KCS apabila terjadi perselisihan
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Wakil I & Wakil II

DIV. TOURING      :
  • Melakukan penelitian awal terhadap situasi dan kondisi mulai lalu lintas hingga tempet kegiatan
  • Menjadwalkan kegiatan touring rutin atau tambahan sesuai dengan program kerja pengurus
  • Memberikan informasi dan pelatihan kepada anggota tentang safety riding dan safety gear yang benar
  • Turut mengkampanyekan program keselamatan lalin sesuai nilai hukum yang berlaku
  • Turut menjaga dengan tatib dalam menjaga ketertiban rombongan/barisan selama touring dengan.
  • Memiliki tugas untuk turut aktif memberikan informasi kepada anggota KCS terhadap problematika motor CB150R beserta cara penanganannya.
  • Memiliki tugas untuk turut aktif memberikan informasi kepada anggota KCS terhadap problematika motor CB150R beserta cara penanganannya.
  • Berkordinasi dengan pengurus lain yang berhubungan dengan bidangnya.
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Wakil II

DIV. PEMBANGUNAN :     
  • Memiliki tanggung jawab untuk memajukan & menjaga roda ekonomi organisasi KCS
  • Menjadwalkan agenda kegiatan ataupun usaha untuk menjalankan roda ekonomi sehingga KCS bisa mandiri
  • Menjadwalkanagenda kegiatan untuk menunjang SDM anggota KCS seperti halnya Pelatihan-pelatihan
  • Berkoordinasi dengan pengurus lain dalam menjalankan program dan tugas pengurus
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Ketua Harian I & II

DIV. KESEHATAN :
  • Melaksanakan tugas bina kesehatan dan promosi kesehatan kepada anggota KCS
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Wakil I

DIV. DOKUMENTASI :
  • Bertanggung jawab kepada segala bentuk dokumentasi selama kegiatan KCS baik secara internal maupun eksternal
  • Selalu berkoordinasi bersama dengan pengurus lain baik sebelum acara pendokumentasian acara maupun setelahnya.
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Wakil I & II

DIV. INVENTARIS & LOGISTIK I :
  • Bertanggung jawab terhadap barang-barang inventaris KCS yang didapat secara Internal dan mendatanya.
  • Bekerjasama dengan divisi / pengurus lain tentang usulan pengadaan barang / alat untuk keperluan pengembangan KCS.
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Wakil I

DIV. INVENTARIS & LOGISTIK II :
  • Bertanggung jawab terhadap barang-barang inventaris KCS yang didapat secara Eksternal dan mendatanya.
  • Turut bertanggung jawab dalam pengadaan barang atau logostik kegiatan eksternal maupun kegiatan ekstra KCS seperti Annivesary dsb
  • Memiliki pertanggunangan jawab kepada Wakil II

DEWAN PENASEHAT
  • Wajib memberikan pengarahan serta suatu keputusan yang tepat kepada anggota baik pendiri, pengurus serta anggota dengan tidak melihat perbedaan apapun jika diperlukan
  • Kedudukan atau posisi penasehat tidak berada di atas atau di bawah susunan kepengurusan, namun berdiri sendiri sesuai fungsinya
  • Sifat Pendapat, pengarahan serta keputusan tidak mutlak untuk di terima
  • Keputusan ataupun kesimpulan dewan pengurus yang akan diambil wajib dipertimbangkan kepada penasehat